Jumlah Kunjungan

Kamis, 17 Oktober 2019

Tugas Penilaian Hutan 2019

PENILAIAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU JELUTUNG (Dyera spp)
Dosen Penanggung Jawab
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh :
Sri Meliani
171201079
MNH 5











PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019



Latar Belakang
            Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari sumber daya tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan. Penilaian sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia.
            Dengan diketahuinya manfaat dari sumberdaya hutan ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam yang semakin langka dan melakukan distribusi manfaat yang adil. Terlebih dengan meningkatnya pertambahan penduduk saat ini yang menyebabkan timbulnya tekanan yang serius terhadap SDH, menyebabkan perlunya penyempurnaan pengelolaan SDA melalui penilaian akurat terhadap nilai ekonomi sumberdaya alam yang sesungguhnya. Manfaat SDH sendiri tidak semuanya memiliki harga pasar, sehingga perlu digunakan pendekatan-pendekatan untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi SDH dalam satuan moneter. Sebagai contoh manfaat hutan dalam menyerap karbon, dan manfaat ekologis serta lingkungan lainnya. Manfaat – manfaat ini masuk kedalam penilaian kehutanan baik secara ekonomi, ekologis, maupun sosial.
            Nilai merupakan persepsi manusia tentang makna suatu objek (sumberdaya hutan) bagi individu tertentu pada tempat dan waktu tertentu. Oleh karena itu akan terjadi keragaman nilai sumberdaya hutan berdasarkan pada persepsi dan lokasi masyarakat yang berbeda-beda. Nilai sumberdaya hutan sendiri bersumber dari berbagai manfaat yang diperoleh masyarakat. Masyarakat yang menerima manfaat secara langsung akan memiliki persepsi yang positif terhadap nilai sumberdaya hutan, dan hal tersebut dapat ditunjukkan dengan tingginya nilai sumberdaya hutan tersebut. Hal tersebut mungkin berbeda dengan persepsi masyarakat yang tinggal jauh dari hutan dan tidak menerima manfaat secara langsung (Nurfatriani, 2015).
            Sumberdaya hutan yang sering dibicarakan hanyalah hasil hutan kayunya, padahal ada banyak sumberdaya hutan bukan kayu yang dapat digunakan sebagai acuan menilai suatu sumberdaya hutan. Salah satunya adalah hasil hutan bukan kayu. Hasil hutan bukan kayu adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunannya dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan pengertian ini terdapat di Permenhut No. 35 Tahun 2007. Adapun hasil hutan bukan kayu yang akan dikaji manfaat dan nilainya pada artikel ini adalah  jelutung (Dyera spp).
Klasifikasi dan Morfologi Jelutung
            Jelutung merupakan jenis tumbuhan berkayu dan termasuk ke dalam famili Apocynaceae. Jelutung atau jelutong (D. costulata, syn. D. laxiflora) adalah spesies pohon dari subfamilia Oleander. Berdasarkan taksonominya tumbuhan jelutung tergolong ke dalam:
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliopsida (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Dicotyledonae (Berkeping dua/dikotil)
Subkelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Dyera
Spesies : Dyera costulata (Hook. f.)

            Jelutung mempunyai nama daerah anjarutung, gapuk, jalutung, jelutung gunung, lebuai, letung, melabuai, nyalutung, pidoron (Sumatera), jelutung bukit, pantung jarenang, pantung gunung, pantung kapur, pantung tembaga, dan pulut (Kalimantan). Bentuk batang jelutung ini silindris tanpa banir, tinggi mencapai 50 – 80 m, tinggi bebas cabangnya 15 – 30 m, diameter mencapai 300 cm dengan tajuk yang tipis. Kulit batangnya berwarna kelabu kehitaman, permukaan halus dengan sisik agak persegi, kulit bagian dalam tebal, bila ditoreh akan keluar getah berwarna putih seperti susu kental. Pohon ini menggugurkan daunnya 1 kali dalam setahun. Bentuk daun bulat telur tetapi lebar di bagian atas mulai dari bagian tengah sampai berbentuk huruf A yang melebar di bagian tengah. Ukuran daun 12 – 25 x 6 – 11 cm. Bunga seperti karangan bunga berbentuk lingkaran dengan panjang 5 – 18 cm dan tidak berbulu. Mahkota berwarna putih dengan pola cabang yang tidak terlalu rapat. Sebagai tanaman endemik, penanaman jelutung tidak memerlukan manipulasi lahan yang terlalu tinggi karena telah tumbuh dan berkembang secara alami. Pohon ini secara alami tumbuh menyebar dengan jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya 50 m. Tekstur kayu jelutung relatif halus, berwarna putih, seratnya searah, kulit batangnya berwarna abu-abu gelap atau hitam dan licin.

Daerah Sebaran Jelutung
            Jelutung dapat tumbuh dengan baik di tanah organosol dengan curah hujan tipe A dan B. Menurut klasifikasi iklim Oldeman, kategori A memiliki bulan basah lebih dari 9 kali berturut-turut dan tipe B memiliki bulan basah 7 hingga 9 kali berturut-turut. Daerah penyebaran jelutung antara lain meliputi wilayah Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Potensi dan Manfaat Jelutung
            Jelutung (Dyera spp) merupakan salah satu jenis andalan untuk merehabilitasi ekosistem hutan rawa gambut yang terdegradasi, karena adaptif di lahan gambut dan memiliki nilai ekonomi, baik dari getah dan kayu. Budidaya jelutung memiliki prospek ekonomi yang cukup tinggi untuk dikembangkan. Jelutung dapat ditanam dengan pola agroforestri, bercampur dengan komoditas komersial lain, seperti kelapa sawit, pinang, kopi dan tanaman buahbuahan, serta jenis tanaman kehutanan seperti ramin, balangeran, nyatoh, dll. Dengan laju pertumbuhan diameter batang jelutung rata-rata 1,7 cm/tahun, jelutung dapat disadap pada umur 10 tahun, dan pada akhir daur yaitu tahun ke-30, kayu jelutung dapat dipanen. Kayu jelutung dapat digunakan untuk industri papan, kayu lapis dan bubur kayu; getahnya untuk industri kabel, alatalat kesehatan, permen karet; sedangkan resin yang diekstrak dari getah jelutung digunakan dalam industri pernis, kosmetik dan bio-farmasi. Dengan memperhatikan sektor industri yang cukup luas dan didukung potensi getah jelutung dari areal rehabilitasi dan lahan milik, industri jelutung dapat berkembang di Indonesia.
            Jenis ini bermanfaat secara ekologi dan ekonomi. Pada penelitian Aminah dkk (2016), menyatakan bahwa Suku Anak Dalam di Jambi memanfaatkan getah jelutung sebagai barang komoditi. Getah jelutung dimanfaatkan sebagai bahan perdagangan sehingga dari hasil penjualan getah jelutung dapat memberikan penghasilan. Hasil wawancara berdasarkan pengetahuan responden bahwa penjualan getah jelutung telah terjadi ketika masa penjajahan Belanda. Transaksi dilakukan dengan cara barter. Getah ditukar dengan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Setelah transmigrasi masuk, Pemanfaatan lain getah jelutung dijadikan obat luar yaitu untuk obat luka karena digigit binatang, obat bisul dan obat sakit gigi yang bengkak. Secara laboratorium, hasil percobaan menunjukkan bahwa getah jelutung bermanfaat sebagai anti hama. Pemanfaatan getah jelutung darat sebagai antibakteri perlu dikembangkan sebagai potensi yang bernilai ekonomi di masa depan.

Nilai Ekonomi dan Ekologis Jelutung
            Pohon jelutung dapat disadap sepanjang tahun dengan produksi lateks per pohonnya tergantung pada ukuran pohon dan cara penyadapannya. Penyadapan yang optimal biasanya dilakukan pada pagi hari supaya lateks yang dihasilkan berjumlah banyak dan tidak membeku. Getah jelutung ini biasa digunakan sebagai bahan baku permen karet, isolator dan soft compound ban. Untuk kayu jelutungnya sendiri berwarna putih kekuningan dengan tekstur halus, arah serat lurus dengan permukaan kayu yang licin mengkilap ini biasa digunakan sebagai bahan baku industri mebel, polywood, moulding, pulp, patung, dan pencil slate. Dyera costulata mampu menghasilkan lateks sekitar 2,5 kg lebih banyak dari Dyera laxiflora yang hanya menghasilkan 0,5 kg lateks. Di Kalimantan dari satu pohon jelutung rata-rata menghasilkan lateks sebanyak 50 kg/pohon/tahun. Pemasaran kayu jelutung di dalam negeri bisa dibilang relatif baik, hal ini dikarenakan kebutuhan bahan baku industri pencil slate yang mencapai 180.670 m3 per tahunnya.
Selain itu kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan rawa yang selalu tergenang atau tergenang berkala. 2. Pertumbuhan yang relatif cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat, pada kondisi alami riap diameter pohon berkisar antara 1,5 cm – 2,0 cm per tahun. Pohon jelutung yang dibudidayakan dengan pemeliharaan semi intensif riap diameternya dapat mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun. 3. Dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Jelutung dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa dengan gangguan terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini diperkirakan disebabkan penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan kanal untuk sistem drainase.

KESIMPULAN
            Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Manfaat SDH sendiri tidak semuanya memiliki harga pasar, sehingga perlu digunakan pendekatan-pendekatan untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi SDH dalam satuan moneter. Sebagai contoh manfaat hutan dalam menyerap karbon, dan manfaat ekologis serta lingkungan lainnya. Manfaat – manfaat ini masuk kedalam penilaian kehutanan baik secara ekonomi, ekologis, maupun sosial.
            Jelutung sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu menyumbang nilai ekonomis tinggi. Sebab, hasil sadapannya yang berupa getah/ resin dapat dipasarkan dengan harga tinggi di pasar. Selain itu, pohon Jelutung merupakan jenis pohon untuk kegiatan rehabilitasi di lahan rawa, hal ini dikarenakan kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi.

DAFTAR PUSTAKA
Aminah, Zuhud, E.A.M., Siregar, I.Z. 2016. Pemanfaatan Jelutung (Dyera spp.) Oleh Suku Anak Dalam Di Taman Nasional Bukit Duabelas , Jambi. Media Konservasi 21(2): 168 – 173.

Bastoni. 2014. Budidaya Jelutung Rawa (Dyera lowii Hook.F). Balai Penelitian Kehutanan Palembang.

http://old.worldagroforestry.org/downloads/Publications/PDFS/BR12025.PDF [Diakses pada 13 Oktober 2019, Pukul : 19.45 WIB].

Nurfatriani, F. 2015. Konsep Nilai Ekonomi Total Dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan. Puslit Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan.

Sahwalita. 2009. Jelutung Darat (Dyera costulata (Mig.) Hook): Pohon Potensial untuk Mendukung Hutan Tanaman Rakyat. Prosiding Seminar hasil penelitian Peran IPTEK dalam mendukung Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat; 2009 Desember 2; Palembang, Indonesia. Palembang (ID): Puslitbang Peningkatan Produktivitas Hutan: 77-83.

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Sekarang itu masih getahnya aja yang dimanfaatkan, terus pas getahnya abis kayunya baru bisa dipanen

      Hapus
  2. Apakah jelutung sudah di ekspor kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, cuman produk ekspornya ya masih mentah gitu. Karena di Indonesia juga produksinya masih skala rendah. Sayang banget kan ya?

      Hapus
  3. Berapa kira kira harga pasar getah jelutungnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mentahnya itu cuman Rp 8000 per kilogramnya, kalo untuk yg sudah diproduksi kurang tau. Soalnya di Indonesia cuman jadi pelengkap suatu produk aja, jadinya susah.

      Hapus
  4. Terdegrasi itu gimana ya kak???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rusak gitu. Jadi kalau dibilang terdegradasi itu dia mengalami kerusakan :)

      Hapus

Tugas Penilaian Hutan 2019

PENILAIAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU JELUTUNG ( Dyera spp ) Dosen Penanggung Jawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. Oleh : Sri Meliani ...