PENILAIAN
HASIL HUTAN BUKAN KAYU JELUTUNG (Dyera
spp)
Dosen Penanggung Jawab
Dr.
Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh :
Sri Meliani
171201079
MNH 5
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
Latar Belakang
Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia
menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal,
nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang
terukur (tangible) berupa hasil hutan
kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta
manfaat tidak terukur (intangible)
berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat
ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah
sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi yang berlebihan. Hal tersebut
disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai
manfaat secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari sumber daya tersebut
perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan. Penilaian
sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang
atau jasa untuk kepentingan manusia.
Dengan diketahuinya manfaat dari sumberdaya
hutan ini maka hal tersebut dapat dijadikan rekomendasi bagi para pengambil
kebijakan untuk mengalokasikan sumberdaya alam yang semakin langka dan
melakukan distribusi manfaat yang adil. Terlebih dengan meningkatnya
pertambahan penduduk saat ini yang menyebabkan timbulnya tekanan yang serius
terhadap SDH, menyebabkan perlunya penyempurnaan pengelolaan SDA melalui
penilaian akurat terhadap nilai ekonomi sumberdaya alam yang sesungguhnya. Manfaat
SDH sendiri tidak semuanya memiliki harga pasar, sehingga perlu digunakan
pendekatan-pendekatan untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi SDH dalam satuan
moneter. Sebagai contoh manfaat hutan dalam menyerap karbon, dan manfaat
ekologis serta lingkungan lainnya. Manfaat – manfaat ini masuk kedalam
penilaian kehutanan baik secara ekonomi, ekologis, maupun sosial.
Nilai merupakan persepsi manusia
tentang makna suatu objek (sumberdaya hutan) bagi individu tertentu pada tempat
dan waktu tertentu. Oleh karena itu akan terjadi keragaman nilai sumberdaya
hutan berdasarkan pada persepsi dan lokasi masyarakat yang berbeda-beda. Nilai
sumberdaya hutan sendiri bersumber dari berbagai manfaat yang diperoleh masyarakat.
Masyarakat yang menerima manfaat secara langsung akan memiliki persepsi yang
positif terhadap nilai sumberdaya hutan, dan hal tersebut dapat ditunjukkan
dengan tingginya nilai sumberdaya hutan tersebut. Hal tersebut mungkin berbeda
dengan persepsi masyarakat yang tinggal jauh dari hutan dan tidak menerima
manfaat secara langsung (Nurfatriani, 2015).
Sumberdaya hutan yang sering
dibicarakan hanyalah hasil hutan kayunya, padahal ada banyak sumberdaya hutan
bukan kayu yang dapat digunakan sebagai acuan menilai suatu sumberdaya hutan.
Salah satunya adalah hasil hutan bukan kayu. Hasil hutan bukan kayu adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta
produk turunannya dan budidaya kecuali kayu yang berasal
dari hutan pengertian
ini terdapat di Permenhut No. 35 Tahun 2007. Adapun hasil hutan bukan kayu yang
akan dikaji manfaat dan nilainya pada artikel ini adalah jelutung (Dyera spp).
Klasifikasi dan
Morfologi Jelutung
Jelutung merupakan jenis tumbuhan
berkayu dan termasuk ke dalam famili Apocynaceae. Jelutung atau jelutong (D. costulata, syn. D. laxiflora) adalah
spesies pohon dari subfamilia Oleander. Berdasarkan taksonominya tumbuhan
jelutung tergolong ke dalam:
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super
Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliopsida (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Dicotyledonae (Berkeping dua/dikotil)
Subkelas
: Asteridae
Ordo
: Gentianales
Famili
: Apocynaceae
Genus
: Dyera
Spesies
: Dyera costulata (Hook. f.)
Jelutung
mempunyai nama daerah anjarutung, gapuk, jalutung, jelutung gunung, lebuai,
letung, melabuai, nyalutung, pidoron (Sumatera), jelutung bukit, pantung
jarenang, pantung gunung, pantung kapur, pantung tembaga, dan pulut
(Kalimantan). Bentuk batang jelutung ini silindris tanpa banir, tinggi mencapai
50 – 80 m, tinggi bebas cabangnya 15 – 30 m, diameter mencapai 300 cm dengan
tajuk yang tipis. Kulit batangnya berwarna kelabu kehitaman, permukaan halus
dengan sisik agak persegi, kulit bagian dalam tebal, bila ditoreh akan keluar
getah berwarna putih seperti susu kental. Pohon ini menggugurkan daunnya 1 kali
dalam setahun. Bentuk daun bulat telur tetapi lebar di bagian atas mulai dari bagian
tengah sampai berbentuk huruf A yang melebar di bagian tengah. Ukuran daun 12 –
25 x 6 – 11 cm. Bunga seperti karangan bunga berbentuk lingkaran dengan panjang
5 – 18 cm dan tidak berbulu. Mahkota berwarna putih dengan pola cabang yang
tidak terlalu rapat. Sebagai tanaman endemik, penanaman jelutung tidak
memerlukan manipulasi lahan yang terlalu tinggi karena telah tumbuh dan
berkembang secara alami. Pohon ini secara alami tumbuh menyebar dengan jarak
antara satu pohon dengan pohon lainnya 50 m. Tekstur kayu jelutung relatif
halus, berwarna putih, seratnya searah, kulit batangnya berwarna abu-abu gelap
atau hitam dan licin.
Daerah Sebaran
Jelutung
Jelutung dapat
tumbuh dengan baik di tanah organosol dengan curah hujan tipe A dan B. Menurut klasifikasi
iklim Oldeman, kategori A memiliki bulan basah lebih dari 9 kali berturut-turut
dan tipe B memiliki bulan basah 7 hingga 9 kali berturut-turut. Daerah
penyebaran jelutung antara lain meliputi wilayah Aceh, Sumatra Barat, Sumatra
Utara, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan
Kalimantan Timur.
Potensi dan
Manfaat Jelutung
Jelutung (Dyera spp)
merupakan salah satu jenis andalan untuk merehabilitasi ekosistem hutan rawa
gambut yang terdegradasi, karena adaptif di lahan gambut dan memiliki nilai ekonomi,
baik dari getah dan kayu. Budidaya jelutung memiliki prospek ekonomi yang cukup
tinggi untuk dikembangkan. Jelutung dapat ditanam dengan pola agroforestri,
bercampur dengan komoditas komersial lain, seperti kelapa sawit, pinang, kopi
dan tanaman buahbuahan, serta jenis tanaman kehutanan seperti ramin,
balangeran, nyatoh, dll. Dengan laju pertumbuhan diameter batang jelutung
rata-rata 1,7 cm/tahun, jelutung dapat disadap pada umur 10 tahun, dan pada
akhir daur yaitu tahun ke-30, kayu jelutung dapat dipanen. Kayu jelutung dapat
digunakan untuk industri papan, kayu lapis dan bubur kayu; getahnya untuk industri
kabel, alatalat kesehatan, permen karet; sedangkan resin yang diekstrak dari
getah jelutung digunakan dalam industri pernis, kosmetik dan bio-farmasi.
Dengan memperhatikan sektor industri yang cukup luas dan didukung potensi getah
jelutung dari areal rehabilitasi dan lahan milik, industri jelutung dapat
berkembang di Indonesia.
Jenis ini
bermanfaat secara ekologi dan ekonomi. Pada penelitian Aminah dkk (2016),
menyatakan bahwa Suku Anak Dalam di Jambi memanfaatkan getah jelutung sebagai
barang komoditi. Getah jelutung dimanfaatkan sebagai bahan perdagangan sehingga
dari hasil penjualan getah jelutung dapat memberikan penghasilan. Hasil
wawancara berdasarkan pengetahuan responden bahwa penjualan getah jelutung
telah terjadi ketika masa penjajahan Belanda. Transaksi dilakukan dengan cara barter.
Getah ditukar dengan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Setelah transmigrasi
masuk, Pemanfaatan lain getah jelutung dijadikan obat luar yaitu untuk obat luka
karena digigit binatang, obat bisul dan obat sakit gigi yang bengkak. Secara
laboratorium, hasil percobaan menunjukkan bahwa getah jelutung bermanfaat
sebagai anti hama. Pemanfaatan getah jelutung darat sebagai antibakteri perlu
dikembangkan sebagai potensi yang bernilai ekonomi di masa depan.
Nilai Ekonomi
dan Ekologis Jelutung
Pohon jelutung dapat disadap
sepanjang tahun dengan produksi lateks per pohonnya tergantung pada ukuran
pohon dan cara penyadapannya. Penyadapan yang optimal biasanya dilakukan pada
pagi hari supaya lateks yang dihasilkan berjumlah banyak dan tidak membeku. Getah
jelutung ini biasa digunakan sebagai bahan baku permen karet, isolator dan soft compound ban. Untuk kayu
jelutungnya sendiri berwarna putih kekuningan dengan tekstur halus, arah serat
lurus dengan permukaan kayu yang licin mengkilap ini biasa digunakan sebagai
bahan baku industri mebel, polywood, moulding, pulp, patung, dan pencil slate. Dyera costulata mampu menghasilkan
lateks sekitar 2,5 kg lebih banyak dari Dyera laxiflora yang hanya menghasilkan
0,5 kg lateks. Di Kalimantan dari satu pohon jelutung rata-rata menghasilkan
lateks sebanyak 50 kg/pohon/tahun. Pemasaran kayu jelutung di dalam negeri bisa
dibilang relatif baik, hal ini dikarenakan kebutuhan bahan baku industri pencil
slate yang mencapai 180.670 m3 per tahunnya.
Selain itu kemampuan beradaptasi pada
lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan
syarat mutlak bagi suatu jenis pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi
lahan rawa terdegradasi. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan
rawa yang selalu tergenang atau tergenang berkala. 2. Pertumbuhan yang relatif
cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat, pada kondisi alami
riap diameter pohon berkisar antara 1,5 cm – 2,0 cm per tahun. Pohon jelutung
yang dibudidayakan dengan pemeliharaan semi intensif riap diameternya dapat
mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun. 3. Dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan
yang minimal. Jelutung dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa
dengan gangguan terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini diperkirakan
disebabkan penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan
kanal untuk sistem drainase.
KESIMPULAN
Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia
menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal,
nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang
terukur (tangible) berupa hasil hutan
kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta
manfaat tidak terukur (intangible)
berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Manfaat
SDH sendiri tidak semuanya memiliki harga pasar, sehingga perlu digunakan
pendekatan-pendekatan untuk mengkuantifikasi nilai ekonomi SDH dalam satuan
moneter. Sebagai contoh manfaat hutan dalam menyerap karbon, dan manfaat
ekologis serta lingkungan lainnya. Manfaat – manfaat ini masuk kedalam
penilaian kehutanan baik secara ekonomi, ekologis, maupun sosial.
Jelutung sebagai salah satu hasil
hutan bukan kayu menyumbang nilai ekonomis tinggi. Sebab, hasil sadapannya yang
berupa getah/ resin dapat dipasarkan dengan harga tinggi di pasar. Selain itu,
pohon Jelutung merupakan jenis pohon untuk kegiatan rehabilitasi di lahan rawa,
hal ini dikarenakan kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya
adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis
pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi.
DAFTAR PUSTAKA
Aminah,
Zuhud, E.A.M., Siregar, I.Z. 2016. Pemanfaatan Jelutung (Dyera spp.) Oleh Suku Anak Dalam Di Taman Nasional Bukit Duabelas ,
Jambi. Media Konservasi 21(2): 168 – 173.
Bastoni.
2014. Budidaya Jelutung Rawa (Dyera lowii
Hook.F). Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
http://old.worldagroforestry.org/downloads/Publications/PDFS/BR12025.PDF
[Diakses pada 13 Oktober 2019, Pukul : 19.45 WIB].
Nurfatriani,
F. 2015. Konsep Nilai Ekonomi Total Dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan. Puslit
Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan.
Sahwalita.
2009. Jelutung Darat (Dyera costulata
(Mig.) Hook): Pohon Potensial untuk Mendukung Hutan Tanaman Rakyat. Prosiding
Seminar hasil penelitian Peran IPTEK dalam mendukung Pembangunan Hutan Tanaman
Rakyat; 2009 Desember 2; Palembang, Indonesia. Palembang (ID): Puslitbang
Peningkatan Produktivitas Hutan: 77-83.



Manfaat lain dari jelutuny apa ka?
BalasHapusSekarang itu masih getahnya aja yang dimanfaatkan, terus pas getahnya abis kayunya baru bisa dipanen
HapusApakah jelutung sudah di ekspor kak?
BalasHapusSudah, cuman produk ekspornya ya masih mentah gitu. Karena di Indonesia juga produksinya masih skala rendah. Sayang banget kan ya?
HapusBerapa kira kira harga pasar getah jelutungnya?
BalasHapusMentahnya itu cuman Rp 8000 per kilogramnya, kalo untuk yg sudah diproduksi kurang tau. Soalnya di Indonesia cuman jadi pelengkap suatu produk aja, jadinya susah.
HapusTerdegrasi itu gimana ya kak???
BalasHapusRusak gitu. Jadi kalau dibilang terdegradasi itu dia mengalami kerusakan :)
Hapusmetode penyadapannya gimana tuh ?
BalasHapusLebih ke penyadapan getah karet gitu sih
Hapus